Isu korupsi adalah topik yang tidak pernah lekang oleh waktu, baik dalam diskusi di kelas maupun dalam karya sastra. Bagi para siswa yang sedang mencari referensi untuk tugas membaca puisi di sekolah, atau bagi siapa saja yang ingin menyuarakan keresahan tentang integritas bangsa, puisi “Untuk Koruptor Yang Buta Hati” karya Dino Joy hadir sebagai jawaban.
Puisi ini ditulis dengan diksi yang lugas, tajam, dan tanpa kiasan yang membingungkan. Ini adalah karya yang tepat untuk menyuarakan kritik sosial dengan cara yang berani dan mudah dipahami oleh pendengar.
Tips Menggunakan Puisi Ini untuk Tugas Sekolah
Puisi ini terdiri dari 7 bait. Jika tugas sekolah Anda mewajibkan puisi yang lebih singkat (misalnya 3 atau 4 bait), Anda tidak perlu khawatir. Anda bisa mengambil bagian-bagian yang paling mewakili pesan yang ingin Anda sampaikan:
- Untuk fokus pada pengkhianatan janji: Gunakan bait ke-1, ke-2, dan ke-3.
- Untuk fokus pada keserakahan: Gunakan bait ke-4 dan ke-5.
- Untuk fokus pada ajakan sadar/pesan moral: Gunakan bait ke-6 dan ke-7.
Berikut adalah teks lengkapnya untuk Anda resapi:
Untuk Koruptor Yang Buta Hati
Karya: Dino Joy
Kau tlah hancurkan sumpahmu sendiri.. Sumpah yang dulu terbungkus rapi.. Yang berhiaskan janji-janji manis.. Saat berkata berniat akan mengabdi untuk negeri..
Kau terpilih karena dukungan rakyat.. Dengan berjuta harapan membangun bangsa.. Akan tetap tegar, jujur, dan setia.. Tak mau melirik aliran dana yang tak biasa..
Namun ternyata hanya dusta belaka kata-kata yang dulu kau ucapkan.. Manis di bibir dan terikat rayuan-rayuan setan.. Dan kinipun kau hisap darah rakyat mentah-mentah.. Kaupun jilati keringat jerih payah rakyat..
Uang negara yang dari rakyat untuk rakyat.. Kau lipat sendiri untuk memperkaya diri.. Kau cari dan gali kekayaan negeri yang tersembunyi.. Tapi tak kau bagi dan kau makan sendiri..
Kau jadikan kepintaranmu untuk menipu.. Bermain belakang bersama teman-teman relasimu.. Saling cari posisi dan saling tutup menutupi.. Hingga tajamnya mata sang kucingpun berhasil kau kelabui..
Untukmu para koruptor, para tikus-tikus berdasi.. Sadarlah kalian bahwa kita semua pasti akan mati.. Untukmu para koruptor yang buta hati.. Sengaja aku tulis puisi ini..
Sampai kapankah negeri ini akan maju..? Disaat yang seharusnya membangun tapi malah menghancurkan.. Disaat otak-otak pintar yang seharusnya membenahi.. Tapi malah tak amanah dan terus membodohi..
Makna di Balik Puisi
Karya ini dibuat untuk menyentuh hati mereka yang sering disebut sebagai “tikus berdasi”. Menggunakan bahasa yang sederhana, puisi ini mengajak kita semua untuk melihat bahwa jabatan dan harta bukanlah segalanya jika dibarengi dengan hilangnya nurani.
Semoga melalui puisi ini, pesan anti korupsi bisa tersampaikan dengan baik dan menjadi pengingat bagi siapa pun yang membacanya.
Apakah Anda memiliki pendapat tentang pemberantasan korupsi di Indonesia? Mari berdiskusi di kolom komentar.
Baca puisi tentang kehidupan lainnya:


