puisi kematian islami

Puisi Kematian Islami: Nasehat Terbaik dan Guru Kehidupan

Diposting pada

Assalamu’alaikum sobat PuisiNesia di mana pun berada. Pernahkah Anda merenungi makna di balik kata kata puisi kematian yang sering beredar di media sosial? Banyak orang menganggap kematian hanyalah sebuah duka yang memisahkan kita dari kenikmatan dunia. Namun, bagi seorang mukmin, kematian adalah nasehat terbaik dan guru kehidupan yang paling jujur.

Pada kesempatan kali ini, PuisiNesia ingin berbagi sebuah karya yang dalam kategori puisi Islami tentang kematian. Tulisan ini bukan sekadar bait-bait sedih, melainkan puisi nasehat kematian yang bisa menjadi media perenungan bahwa setiap nyawa pasti akan menemui perpisahan.

Hakikat Puisi Takdir Kematian

Kita semua meyakini bahwa puisi takdir kematian adalah pengingat akan hal yang pasti terjadi. Kematian adalah satu-satunya kepastian di dunia ini, meski waktu dan tempatnya menjadi rahasia Sang Pencipta.

Setelah kehidupan dunia berakhir, kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan di hadapan Allah SWT. Saat ajal menjemput, semua taubat mungkin terasa terlambat. Inilah mengapa membaca puisi kematian Islami menjadi sangat penting agar kita tetap terjaga dan tidak terbuai oleh gemerlap dunia yang sementara.

Puisi Kematian yang Mengerikan bagi Jiwa yang Lalai

Berikut adalah sebuah puisi renungan yang menggugah jiwa, mengingatkan kita bahwa kematian adalah guru yang tidak pernah bicara, namun memberikan pelajaran paling berharga.

Kematian adalah Nasehat Terbaik dan Guru Kehidupan

Kematian adalah nasehat terbaik dan guru kehidupan.. Sedikit saja kita lengah dari memikirkan kematian, maka kita akan kehilangan guru terbaik dalam kehidupan..

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir hidupnya.. Dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya.. Sebagaimana ia menjalani kehidupannya, seperti itulah kemungkinan besar ia akan menghadapi kematiannya.. Karena sesungguhnya, dengan menjalani kehidupan berarti kita sedang menuju pada kematian kita..

Pernahkah kita mendengar berita tentang seorang pezina, mati di kamar hotel di atas perut wanita nakalnya.. Atau seorang pecandu narkotik, mati saat sedang pesta narkobanya.. Dan para penjudi, sekarat di atas meja judinya.. Begitu juga kita pernah mendengar, seorang ahli ibadah meninggal dunia di atas sajadahnya..

Sekarang mari kita lihat diri kita! Alangkah malangnya saat ajal tiba nanti, kita masih berlumur dosa berbalut nista.. Alangkah malangnya.. mungkin seperti itulah malam pertama kita di kuburan nanti.. Disana kita hanya sendiri, dicekam rasa sepi dan gelap yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.. Di sana hilangnya sudah gemerlapnya dunia.. semuanya hilang..!

Rumah mewah yang telah kita bangun, semuanya hilang.. Istri yang cinta dan pengabdiannya begitu tulus kepada kita, dia akan pergi meninggalkan kita.. Anak, orang tua, harta, mobil, jabatan, semuanya akan pergi.. Teringat kembali akan istri yang senantiasa kita terlantarkan hak-haknya.. Teringat akan anak yang telah kita nafkahi dengan harta yang haram.. Ya ALLAH.. masihkah ada hari-Mu untukku..

Namun kini pintu-Mu sudah tertutup rapat, bertaubat sudah terlambat, menyesali diri pun sudah tak berarti lagi.. Dan tinggallah sendiri menanggung beban DOSA dan KESALAHAN yang tidak termaafkan.. Sekarang adakah dalam hati kita, bahwasanya mati itu sebagai penasehat..?

Mengapa Puisi Kematian Islami Ini Begitu Penting?

Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah puisi kematian yang mengerikan, namun sejatinya ini adalah cermin kejujuran. Mengingat kematian bukan berarti kita pesimis, melainkan agar kita lebih bersemangat dalam beribadah sebelum pintu taubat tertutup.

Sumber puisi kematian Islami ini adalah dari video YouTube Ustadz Nuruddin Al Indunissy,

https://www.youtube.com/watch?v=LGxB8vW52J8, yang diterbitkan tanggal 23 Agt 2013 DVD REHAB HATI QURANI (Pelatihan Ruqyah Syar’i Live Pertama).

Kesimpulan

Sobat PuisiNesia, semoga karya ini bermanfaat sebagai bahan renungan. Selagi napas masih dikandung badan, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, melunasi hutang, dan meminta maaf kepada orang-orang yang kita sakiti.

Mari kita jadikan kematian sebagai nasehat setiap hari, agar saat waktu itu tiba, kita dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

Bagaimana pendapat Anda tentang puisi di atas? Sampaikan di kolom komentar ya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *